1.11.10

Analisis Pengaruh Bencana Alam terhadap Inflasi

Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Sedangkan dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, akibat adanya ketidak lancaran distribusi barang, serta terjadinya bencana alam juga dapat mempengaruhi proses inflasi. Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Seperti yang kita ketahui apabila terjadi bencana alam maka pendapatan yang di dapat akan berkurang dikarenakan harus mengeluarkan uang yang banyak untuk biaya perbaikan sehingga uang beredar pun bertambah banyak dan terjadilah inflasi. Hal tersebut didukung juga dengan tingkat suku bunga yang akan turun serta keinginan untuk menabung akan berkurang selain dikarenakan tingkat suku bungan juga dikarenakan tidak tersedianya sarana dan prasarana yang mendukung untuk melakukan menabung uang untuk meredam inflasi, karena kerusakan gedung, hilangnya database serta yang lainnya. Rusaknya daerah-daerah yang terkena bencana alam tersebut mendorong para usahawan dan perusahaan untuk menghentikan produksinya sehingga masyarakat banyak yang kehilangan pekerjaan. Masyakarat tidak bekerja sehingga masyarakat tidak mendapatkan penghasilan dan daya beli nya rendah sehingga tercipta inflasi dan sangat mempengaruhi perekonomian global suatu Negara. Terjadinya bencana alam bersamaan dengan kenaikan output, apabila kenaikan harga barang-barang mendahului kenaikan biaya produksi maka dapat menyebabkan keuntungan produsen dalam jangka pendek, Namun lebih banyak bencana alam menurunkan Inflasi sehingga menurunkan output apabila laju inflasi cukup tinggi menyebabkan daya beli menurun dan mengurangi daya serap output produksi.

Mailda

28.10.10

Overview "Financial Markets and Intermediaries"

Financial intermediary seperti contohnya Bank, dimana penabung menyediakan dana secara tidak langsung kepada peminjam. Bank beroperasi dengan cara mengambil deposit dari unit ekonomi yang menabung dan menggunakannya untuk memberikan pinjaman, dalam hal ini bank mendapat bunga dari penyimpan dan peminjam, sehingga disebut sebagai media perantara keuangan. Institusi-institusi keuangan ini melakukan pengaturan kegiatan dari penabung dan peminjam untuk keperluan investasi. Bank sebagai perantara dimana masyarakat sebagai nasabah yang menyimpan uangnya lebih (surplus) dan perusahaan yang membutuhkan dana (minus). Masyarakat yang mempunyai dana lebih ataupun masyarakat yang mempunyai dana yang kurang dapat bertemu di double considence dan risk. Seperti contohnya apabila seseorang ingin meminjam uang ke orang lain, maka mereka harus saling mengenal terlebih dahulu karena jika mereka belum saling mengenal maka itu akan beresiko tinggi. Inilah yang disebut dengan risk dalam financial intermediary. Ini semua diperantarai oleh Lembaga Keuangan. Bank dapat memperoleh profit atau bunga dengan rumus i2 - i1, dimana i2 adalah debitur dalam bank yaitu orang yang meminjam uang di bank dan i1 adalah kreditur dalam bank yaitu orang yang menyimpan uangnya di bank.

Saving and Investment

Saving (tabungan) yaitu pendapatan yang tidak dihabiskan, atau konsumsi yang ditangguhkan. Metode penghematan termasuk menempatkan uang selain dalam rencana bank seperti pensiunan seperti pada akun deposit, versus investasi, dimana risiko lebih tinggi. Seperti halnya tabungan pribadi (private saving) yang berarti kurangnya pengeluaran konsumsi yang tersedia dari pendapatan seseorang yang terbuang. Setiap individu bisa menghemat dalam banyak cara. Hal ini dapat disimpan di bank, dimasukkan ke dalam dana pensiun, digunakan untuk berbisnis, membayar utang, dan lain sebagainya. Rumus dari tabungan pribadi (private saving) = Y – T – C, dimana Y = Pendapatan, T = Pajak, dan C = Konsumsi.

Tabungan Agregat (Public Saving) tidak dapat meningkatkan hasil individu untuk memperoleh potongan kertas seperti tagihan dollar atau saham dan surat obligasi. Tabungan Agregat terjadi ketika bangsa memperoleh aset domestik riil, seperti perumahan baru, mesin baru, pabrik dan kantor baru, penambahan persediaan suatu perusahaan barang, atau klaim baru atas aset di luar negeri, yaitu investasi. Rumus dari Tabungan Agregat (Public Saving) = T – G, dimana T adalah Pajak dan G adalah Pemerintah.

Investasi sama dengan tabungan agregat, namun dapat lebiih tepat dikatakan tabungan agregat sama dengan investasi. Sebagai contoh jika investasi meningkat sebesar 10 miliar dolar, maka tabungan agregat harus meningkat sebesar 10 miliar dolar pula. Itu berarti pendapatan agregat harus meningkat sebesar 10 miliar dolar lebih dari peningkatan konsumsi agregat.

Market for Loanable Funds

a. Sebagai pemasok yaitu orang-orang yang menyimpan uang

b. Demander yaitu orang yang meminjam uang

c. Suku bunga yaitu harga dana pijaman : jumlah uang yang dibayarkan bagi pengguna dollar selama setahun

Government Policies that Effect The Economy’s Saving and Investment

Dalam perekonomian suatu negara, tabungan dan investasi merupakan indikator yang dapat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang (developing countries) termasuk didalamnya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, memiliki dana yang cukup besar. Tetapi di sisi lain, usaha pengerahan sumber dana dalam negeri untuk membiayai pembangunan menghadapi kendala dalam pembentukan modal yang bersumber dari penerimaan pemerintah yaitu ekspor barang dan jasa ke luar negeri. Ada berbagai kebijakan pemerintah di bidang tabungan dan investasi yang harus diperhatikan, hal itu terutama yang berasal dari aturan pajak dan anggaran belanja Negara, seperti : pajak pada tabungan, pajak pada investasi, dan deficit anggaran belanja pemerintah. Jadi, sebagai investor harus memperhatikan dengan seksama perubahan yang terjadi di dalam kebijakan-kebijakan pemerintah.

Mailda