PORTOFOLIO KREDIT
PENDAHULUAN
Sektor perbankan melakukan pembagian sektor industri dalam memberikan kreditnya, hal ini lebih dikenal sebagai portofolio kredit perbankan. Setiap bank berhak menentukan pemberian kredit yag akan diberikan pada sektor ekonomi tertentu sesuai dengan risiko yang telah dipertimbangkan oleh masing-masing manajemen perbankan itu sendiri, tentu dengan tetap mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh bank sentral, Bank Indonesia. Penyebaran portofolio kredit yang dilakukan hampir seluruh bank sampai saat ini masih tetap banyak menimbulkan risiko yang tinggi, meskipun masing-masing perbankan telah memilih sektor ekonomi apa yang akan diberikan kredit dan kemungkinan memiliki risiko default paling kecil, namun tetap saja hal itu belum dapat diminimalisasi, dan masih menjadi tantangan untuk dapat meminimalisasi risiko dan mengelola risiko dengan baik.
Portofolio seringkali dikaitkan dengan masalah sekuritas, dimana return realisasi portofolio (portfolio realized return) merupakan rata-rata tertimbang dari return-return realisasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio tersebut (Jogianto, 2003), hal ini terlihat dari penelitian yang dilakukan R. Agus Sartono & Sri Zulaihati (1998) bahwa dalam menentukan portofolio optimal di BEJ dengan menggunakan model indeks tunggal. Selain bidang sekuritas, penentuan portofolio juga tidak terbatas hanya pada masalah saham, namun juga dalam masalah perbankan terutama dalam menentukan portofolio kredit yang diberikan oleh setiap bank guna mencapai optimal portofolio kredit sehingga diharapkan risiko kredit seminimum mungkin. Metode Markowitz yang diperkenalkan oleh Profesor Harry Markowitz dapat mengubah pandangan kaum investor mengenai risiko dengan jalan memperkenalkan konsep risiko secara kuantitatif ( Fabozzi, 1999). Strategi diversifikasi Markowitz terutama berhubungan dengn tingkat kovarians antara pengembalian aktiva dalam portofolio. Kontribusi utama dari jenis diversifikasi ini adalah formulasi risiko aktiva dalam hal portofolio aktiva, bukan risiko aktiva secara sendiri-sendiri. Diversifikasi Markowitz berusaha menggabungkan aktiva-aktiva dalam portofolio dengan pengembalian yang memiliki korelasi positif kurang dari sempurna, dengan tujuan mengurangi risiko portofolio (varians) tanpa mengurangi pengembalian (Fabozzi, 1999). Metode Markowitz ini dapat digunakan untuk menentukan risiko terkecil dari suatu portofolio, tidak hanya saham, namun dapat diterapkan juga pada posisi kredit, dan hal ini merupakan keunggulan dari metode Markowitz.
Berikut ini definisi kredit. Kredit dapat didefinisikan dengan empat cara:
(1) Kredit dianggap sebagai waktu yang diberikan untuk membayar barang atau jasa yang dijual atas kepercayaan.
(2) Kredit merupakan penyediaan uang atau tagihan (yang disamakan dengan uang) berdasarkan kesepakatan pinjam meminjam antara bank dan pihak lain yang dalam hal ini peminjam berkewajiban melunasi kewajibannya setelah jangka waktu tertentu dengan sejumlah bunga yang ditetapkan lebih dahulu.
(3) Kredit adalah dana yang tersimpan dalam perkiraan bank
Penyebab Timbulnya Kredit
Tahapan perekonomian kredit muncul setelah melalui tahapan perekonomian uang. Lazimnya kredit dalam perekonomian modern terjadi karena tiga buah alternatif:
(1) Melalui transaksi pembelian dan penjualan barang atau jasa yang pembayarannya ditangguhkan oleh pembeli.
(2) Melalui pinjam-meminjam uang antara mereka yang berlebihan (surplus) dan mereka yang berkekurangan (deficit).
(3) Melalui penerbitan uang fidusier (yaitu, penerbitan uang oleh sebuah bank tanpa cadangan emas, perak, atau cadangan lainnya, namun memiliki nilai karena ditopang oleh kepercayaan atau amanat umum)
Manajemen Kredit
Dalam praktik perbankan di Indonesia, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, penentuan besarnya kredit dipengaruhi oleh ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a. Reserve Requirement (RR)
Reserve Requirement adalah ketentuan bagi setiap bank umum untuk menysihkan sebagian dari dana pihak ketiga yang berhasil dihimpunnya dalam bentuk giro wajib minimum berupa rekening giro bank yang bersangkutan pada bank Indonesia.
b. Loan to Deposit Ratio (LDR)
Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio antara besarnya seluruh volume kredit yang disalurkan oleh bank dan jumlah penerimaan dana dari berbagai sumber.
c. Batas Maksimum Pemberian Kredit
Batas maksimum pemberian kredit adalah ketentuan tentang tidak diperbolehkannya suatu bank untuk memberikan kredit (baik kepada nasabah tunggal maupun kepada nasabah grup) yang besarnya melebihi 20% dari besarnya modal bank yang bersangkutan.
d. Portfolio Investment
Prioritas terakhir di dalam alokasi dana bank adalah dengan mengalokasikan sejumlah dana tertentu pada investasi portfolio (portfolio investment). Alokasi dana bank ke dalam kategori ini adalah dana sisa (residual fund) setelah penanaman dana dalam bentuk pinjaman (kredit) telah memenuhi kriteria atau target tertentu.
Peranan Kredit dalam Perekonomian
Dalam perekonomian seperti itu, kredit akan mengambil alih sebagian fungsi uang (yang dipergunakan untuk pembayaran tunai) karena hampir segala hal dilakukan dengan kredit. Maka peranan kredit dalam perekonomian modern yang seperti itu adalah:
(1) Kredit ternyata dapat meningkatkan efisiensi penggunaan uang atau modal dengan meningkatkan produktivitas masyarakat.
(2) Kredit dapat meningkatkan efisiensi penggunaan barang, karena kredit dapat membantu proses produksi dari bahan hingga barang jadi dan sekaligus juga membantu pemindahan barang dari produsen kepada konsumen dalam proses marketing; kredit ikut melancarkan arus barang.
(3) Kredit dapat meningkatkan arus peredaran lalu lintas uang, misalnya, melalui penggunaan cek, giro, wesel, promes, dan kartu kredit yang diterbitkan oleh bank.
(4) Kredit dapat menjadi alat stabilitas ekonomi yang dilakukan melalui kebijaksanaan ekspansi dan kontraksi kredit, misalnya, dengan politik diskonto oleh bank sentral.
(5) Kredit dapat berfungsi sebagai jembatan untuk meningkatkan pendapatan nasional suatu negara.
(6) Kredit dapat menciptakan daya beli baru bagi para debitur, meskipun debitur-debitur itu tidak memiliki uang tunai dalam saldo neracanya.
PEMBAHASAN
Bagi seorang manager portofolio, return dan risiko seluruh sekuritas sangat diperlukan. Begitu pula halnya dengan penyebaran portofolio kredit yang dilakukan oleh setiap bank, dimana tujuan yang dikehendaki adalah untuk menyebar risiko yang mungkin dapat timbul karena proses kredit yang diberikan. Portofolio kredit yang ada dalam setiap bank mungkin berbeda, namun tidak menutup kemungkinan juga sama, hanya saja porsi penyebaran portofolio di setiap sektor ekonomi yang berbeda-beda. Portofolio dapat didefinisikan sebagai pembagian atau penyebaran pada beberapa sektor guna meminimalisasi risiko yang dapat terjadi. Ini berlaku baik untuk sekuritas, industri, maupun penyebaran pada bagian lainnya.
Teori Portofolio diartikan sebagai teori yang mengklasifikasikan pembagian portofolio guna meminimalisasi risiko dan memperoleh return yang tinggi. Selain itu Teori Portofolio diartikan pula sebagai studi tentang seorang investor individual mencapai pengembalian maksimum yang diharapkan dari portofolio yang berbeda-beda di mana masing-masing mempunyai tingkat risiko tertentu (Collins, Pass-Lones, 1994).
Menurut Sharpe, Alexander, dan Bailey dalam jurnal R. Agus Sartono (1998) memiliki pandangan bahwa portofolio dikatergorikan efisien apabila memiliki tingkat risiko yang sama, mampu memberikan tingkat keuntungan yang lebih tinggi, atau mampu menghasilkan tingkat keuntungan yang sama tetapi dengan risiko yang lebih rendah.
Salah satu teknik analisis portofolio optimal yang dilakukan Elton dan Gruber dalam jurnal R. Agus Sartono (1998) adalah menggunakan indeks tunggal. Analisis atas sekuritas dilakukan dengan membandingkan excess return to beta (ERB) dengan cut-off rate-nya (C) dari masing-masing saham. Saham yang memiliki ERB lebih besar dari C dijadikan kandidat portofolio, sedang bila sebaliknya yaitu C lebih besar dari ERB tidak diikutkan dalam portofolio. Pemilihan saham dan penentuan portofolio optimal yang dilakukannya didasari oleh pendahulunya Markowitz (1959) yang dimulai dari data historis atas saham individual yang dijadikan input, dan dianalisis untuk menghasilkan sejumlah keluaran yang menggambarkan kinerja dari setiap portofolio, apakah tergolong portofolio yang baik atau sebaliknya. Investor yang rasional akan menginvestasikan dananya dengan memilih saham yang efisien, yang memberi return maksimal dengan risiko tertentu, atau return tertentu dengan risiko minimal. Untuk menghindari atau memperkecil risiko, investor melakukan strategi diversifikasi atas investasinya dengan membentuk portofolio yang terdiri atas beberapa saham yang dinilai efisien.
Kita mengetahui bahwa setiap usaha pasti menginginkan memperoleh return yang tinggi, untuk mendapatkan return yang tinggi dengan risiko yang seminimal mungkin seringkali pihak manajemen melakukan penyebaran risiko, dengan kata lain manajemen melakukan portofolio pada usahanya untuk memperoleh return tinggi dengan risiko minim.
Portofolio seringkali dikaitkan dengan masalah sekuritas, dimana return realisasi portofolio (portofolio realized return) merupakan rata-rata tertimbang dari return-return realisasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio tersebut (Jogianto, 2003). Investor memilih portofolio yang memberikan kepuasan melalui risiko dan return, dengan memilih sekuritas yang berisiko, seperti yang diungkap Markowtiz, Tobin, dan Lintner dalam jurnal R. Agus Sartono (1998) yang menyatakan bahwa portofolio optimal merupakan sesuatu yang unik atas investasi pada aset yang berisiko.
Keputusan investasi dibedakan dalam 2 bagian:
1. Menentukan maksimisasi rasio portofolio antara nilai yang diharapkan dan standar deviasi pada excess return to beta dibandingkan dengan riskfree pada aset lain.
2. Memutuskan mengalokasikan dana antara aset yang kurang berisiko dan portofolio pada sekuritas yang berisiko.
Portofolio optimal dicapai dengan melakukan simulasi pada beberapa sekuritas yang dinilai efisien dengan menggunakan prosedur perhitungan tertentu, menurut Mao dalam jurnal R. Agus Sartono (1998). Namun sebenarnya tidak hanya sekuritas saja yang berkaitan dengan portofolio, salah satunya adalah portofolio kredit.
Dalam pembentukan portafolio, investor berusaha memaksimalkan pengembalian yang diharapkan dari investasi dengan tingkat risiko tertentu yang dapat diterima, portofolio yang dapat mencapai tujuan di atas disebut dengan portafolio yang efisien (Reilly, 2000). Demikian pula halnya pada kredit yang diberikan oleh bank, Sangay diharapkan bahwa pengembalian yang diterima kembali dapat mencapai tujuan yakni kredit tetap lancar, sehingga Non Performing Loan rendah Namur penggunaan Loan to Deposit Ratio maksimum, maka dapat dikatakan portofolio kredit tersebut optimal.
Aktiva berisiko merupakan aktiva dimana pengembalian yang akan diterima di masa depan bersifat tidak pasti, seperti misalnya investor membeli saham X dan bermaksud untuk memegang saham tersebut selama 1 (satu) tahun, pada saat pembelian saham investor tidak mengetahui besar pengembalian yang akan diterimanya karena pengembalian yang akan diterima tergantung dari harga saham X satu tahun mendatang dan pendapatan yang diperoleh investor reama satu tahun. Maka dapat disimpulkan saham merupakan aktiva berisiko (Reilly, 2000). Akan tetapi, ada pula aktiva yang pengembalian masa depannya dapat diketahui dengan pasti, aktiva tersebut disebut aktiva bebas risiko, dimana umumnya merupakan kewajiban jangka pendek dari suatu pemerintahan (Reilly, 2000), misalnya saja seorang investor membeli sekuritas pemerintah dengan jangka jatuh tempo 1 (satu) tahun dan berniat menyimpan sekuritas tersebut hingga saat jatuh temponya, maka besar pengembalian satu tahun mendatang akan diketahui dengan pasti (Reilly, 2000).
Teori Portofolio
Risiko dapat diartikan sebagai suatu kerugian yang dihadapi, sehubungan dengan investasi maka para investor menggunakan berbagai difinisi untuk menjelaskan makna risiko (Fabozzi, 1999). Profesor Harry Markowitz mengubah pandangan kaum investor mengenai risiko dengan jalan memperkenalkan konsep risiko secara kuantitatif, dimana risiko sebagai ukuran statistika yang disebut varians. Varians yang dikaitkan dengan distribusi pengembalian mengukur kekencangan dimana distribusi dikelompokkan di sekitar mean atau pengembalian yang diharapkan.
Markowitz berpendapat kekencangan atau varians ini sama dengan ketidakpastian atau risiko suatu investasi. Jika aktiva tidak memiliki risiko maka penyimpangan pengembalian diharapkan dari aktiva tersebut adalah 0 (Fabozzi, 1999). Selain varians, deviasi standar pun memiliki konsep yang sama yaitu semakin besar varians atau deviasi standar maka semakin besar risiko investasi (Fabozzi,1999).
Kovarians dalam arti praktis dapat diartikan sebagai tingkat pengembalian kedua aktiva berbeda atau berubah secara bersamaan. Kovarians positif berarti pengembalian kedua aktiva cenderung bergerak atau berubah ke arah yang sama, sedangkan kovarians negatif berarti pengembalian bergerak pada arah yang berlawanan. Kovarians dapat dianggap sebagai korelasi antara pengembalian yang diharapkan dari kedua aktiva (Fabozzi, 1999).
Markowitz Model
Harry Markowitz sebagai tokoh pengembang teori portofolio, dimana dalam pembentukan portofolio para investor berusaha memaksimalkan pengembalian yang diharapkan dari investasi dengan tingkat risiko tertentu yang dapat diterima (Fabozzi, 1999), dengan kata lain investor berusaha meminimalkan risiko yang dihadapi untuk sasaran tingkat pengembalian tertentu, dimana investor dalam hal ini dapat diasumsikan pula sebagai bank yang memberikan kredit kepada debiturnya.
Portofolio yang dapat mencapai tujuan di atas disebut dengan portofolio yang efisien. Untuk membentuk portofolio yang efisien, perlu dibuat beberapa asumsi mengenai perilaku investor dalam membuat keputusan investasi. Asumsi yang wajar adalah investor cenderung menghindari risiko (risk averse). Investor penghindar risiko adalah investor yang dihadapkan pada dua investasi dengan pengembalian diharapkan yang sama dan risiko yang berbeda, maka yang akan dipilih adalah investasi dengan tingkat risiko yang lebih rendah. Jika investor memiliki beberapa pilihan portofolio yang efisien, maka portofolio yang paling optimal-lah yang akan dipilihnya (Fabozzi,1999).
Metode Markowitz, salah satunya adalah dengan menggunakan metode cepat untuk menghitung set portofolio mean-variance efisien untuk seorang investor yang dapat menjual sekuritasnya sesingkat mungkin seperti selama membelinya, tentunya dengan beberapa kondisi yang memuaskan. Seseorang mungkin berpikir bahkan komputer super cepat dapat meniadakan kebutuhan algoritma cepat ini. Bagaimanapun, analisis dengan angka sekuritas yang besar, pengguna menunggu jawaban dalam waktu riil. Simulasi Monte Carlo yang mengerjakan ini membutuhkan banyak reoptimasi, dan eksperimen simulasi membutuhkan banyak simulasi, menggunakan komputasi speedy dari frontier efisien yang masih berharga (Bruce Jacobs , Kenneth & Harry Markowitz, 2003).
Sebuah portofolio yang feasible biasanya memenuhi batasan-batasan spesifik. Porfolio mean-variance yang efisien adalah yang menyediakan minimum varian diantara portofolio yang feasible dengan sebuah return yang sama (atau lebih besar), dan expected return maksimum untuk variance yang diberikan (given) atau lebih kecil. Return yang diharapkan dan variance yang disediakan oleh sebuah efisien portofolio dinamakan sebuah kombinasi efficient mean-variance (EV). Set dari seluruh kombinasi EV dinamakan efficient frontier.
GAMBARAN UMUM RISIKO PORTOFOLIO PENYALURAN KREDIT
Karakteristik pengembalian-risiko dari masing2 penyaluran kredit dalam portofolio adalah penting bagi FI, tetapi status pengembalian-risiko seluruh portofolio penyaluran kredit, dengan beberapa risiko penyaluran kredit individual yang terdiversifikasi, mempengaruhi eksposur risiko keseluruhan kredit.
Untuk itu penggunaan model portofolio penyaluran kredit dalam membentuk batas konsentrasi maksimum (kredit) bagi bisnis tertentu atau sektor2 peminjam menjadi potensial. Model portofolio pinjaman ada yang dikembangkan oleh regulator.
MODEL-MODEL SEDERHANA RISIKO KONSENTRASI PENYALURAN KREDIT
Dua model sederhana yang dikembangkan oleh FI untuk mengukur konsentrasi risiko kredit dalam portofolio penyaluran kredit yang secara murni model subyektif:
1. Analisis migrasi,
Analisis migrasi: suatu metode untuk mengukur risiko konsentrasi penyaluran kredit berdasarkan pemeringkatan kredit perusahaan dalam sektor2 khusus untuk penurunan2 tidak biasa.
Jika peringkat kredit sejumlah perusahaan dalam suatu sektor turun dengan jumlah yang besar daripada biasanya, FI membatasi pinjaman kepada sektor itu.
2. Batas-batas konsentrasi.
Batas-batas konsentrasi: pembentukan batas2 eksternal atas ukuran penyaluran kredit maksimum yang dapat disalurkan bagi peminjam individu.
FI menentukan batas2 konsentrasi atas proporsi dari portofolio penyaluran kredit yang dapat diberikan kepada beberapa pelanggan tunggal dengan menilai portofolio sekarang peminjam, rencana bisnis unit operasinya, proyeksi ekonomi ekonom, & perencanaan strategiknya.
FI membentuk batas2 konsentrasi untuk mengurangi eksposur terhadap industri tertentu & meningkatkan eksposur kepada yang lain.
Ketika dua kinerja kelompok industri berkorelasi secara tinggi, FI dapat membentuk batas agregatif kurang daripada jumlah dari dua batas industri individual.
FI juga secara khusus membentuk batas2 geografis.
Batas konsentrasi = [Kerugian maksimum sebagai persentase kapital x (1/Tingkat Kerugian)].
Meskipun model batas konsentrasi mempunyai deal potensial yang besar, tetapi ketersediaan data & problema implementasi lain seringkali mencegah pencapaian potensialnya ini.
DIVERSIFIKASI PORTOFOLIO PENYALURAN KREDIT & TEORI PORTOFOLIO MODERN
Jika manajer FI memiliki kredit & obligasi yang diperdagangkan secara luas sebagai aset2, maka dapat menghitung pengembalian & risiko dengan model diversifikasi portofolio.
Setelah menghitung seri pengembalian sekuritas individual, manajer FI dapat menghitung pengembalian yang diharapkan & risikonya:
Rp = S XiRi.
sp2 = S Xi2si2 + S S XiXjsij.
Pelajaran mendasar atas teori portofolio modern (MPT): dengan mengambil keunggulan atas ukurannya, FI dapat mendiversifikasi sejumlah risiko kredit yang dapat dipertimbang-kan sesuai dengan pengembalian atas aset2 yang berbeda yang berkorelasi tidak sempurna.
Diversifikasi portofolio FI terbaik adalah portofolio yang memenuhi syarat:
1. Dengan risiko minimum akan menghasilkan pengembalian tertentu,
2. Dengan risiko tertentu akan menghasilkan pengembalian tertinggi.
Kebanyakan manajer portofolio menginginkan dilema pengembalian-risiko dalam pikiran, mereka menginginkan untuk menerima risiko lebih jika mereka dikompensasi dengan pengembalian diharapkan lebih tinggi.
PENUTUP
Portofolio Kredit didefinisikan sebagai kumpulan dari berbagai macam sektor ekonomi berdasarkan bidang usaha sejenis yang diberikan kredit oleh bank.
Berdasarkan teori portofolio Markowitz dimana dalam pembentukan portofolio para investor berusaha memaksimalkan pengembalian yang diharapkan dari investasi dengan tingkat risiko tertentu yang dapat diterima dan dengan tercapainya tujuan tersebut maka akan diperoleh portofolio yang efisien. Portofolio yang efisien adalah portofolio yang memiliki risiko terkecil. Berdasarkan pengolahan data pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa setiap kategori perbankan memiliki rata-rata posisi kredit dan risiko kredit yang berbeda-beda dari berbagai sektor usaha untuk lebih diutamakan diberikan kredit, dengan harapan portofolio kredit pada sektor ekonomi tersebut yang memiliki risiko kredit terkecil untuk setiap kategori bank.
Mailda